Bungkus Korek, ‘Tiket’ Sopir Truk Lewat Jembatan Timbang di Pantura | PT Rifan Financindo

PT Rifan Financindo – Sopir truk belakang ini sering menjadi bahan perbincangan. Mereka dikabarkan enggan masuk Tol Trans Jawa karena tak sanggup membayar tarifnya.

Tak hanya tarif, muncul juga isu adanya pungli di Tol Trans Jawa, sehingga sopir truk memilih jalur pantura. Salah titik yang diisukan sering terjadi pungli adalah rest area km 166 A Cipali.

Tim detikFinance mencoba membuktikan kebenaran isu itu. Tim sampai di rest area itu sekitar pukul 17.30 WIB. Di area parkir kendaraan besar terlihat cukup banyak truk yang parkir.

“Di sini memang tempat favoritnya sopir truk berhenti. Di sini bisa menampung sampai 30 truk besar. Fasilitasnya juga tidak berbeda dengan kendaraan kecil. Mereka juga bebas mau gunakan toilet kendaraan kecil,” kata Supervisor Rest Area Km 166 PT Wirani Sons, Pijar Alam kepada detikFinance.

Kondisi tentu anomali dengan kabar yang beredar bahwa rest area km 166 banyak pungli. Buktinya banyak dari sopir truk yang masih suka beristirahat di rest area itu.

Hal itu diperkuat dengan pengakuan salah satu sopir truk bernama Mansur. Menurutnya disepanjang Tol Trans Jawa yang dilaluinya tidak pernah menemukan pungli.

“Saya sering ke sini km 166, enggak ada tuh pungli, parkir pun gratis. Justru yang ada kejahatan, kadang kalau tidur di pinggir tol tau-tau ban serep kita hilang, kada aki dicopot,” ujar Mansur.

Tim detikFinance beralih melakukan penelusuran di jalur Pantura dari Semarang hingga Jakarta. Sesampainya di Kendal, kami menghampiri beberapa sopir truk yang tengah beristirahat.

Saat ditanyai mengenai pungli, Julari mengatakan bahwa saat ini praktik pungli sudah jauh berkurang. Ya berkurang bukan berarti sudah bersih sepenuhnya.

Setiap melakukan pengiriman barang Julari selalu menyiapkan bungkus korek kayu yang sudah kosong. Bungkus korek itu untuk diisi dengan uang kertas Rp 20 ribu. Bungkus korek itu ibarat seperti tiket untuk tidak masuk ke jembatan timbang.

“Jadi kalau kita mau jalan terus enggak belok masuk ke timbangan kita lempar aja bungkus koreknya dar kaca. Itu biasanya kalau kita lewat malam,” ujarnya sambil menunjukan bungkus korek api yang sudah berisi uang.

Menurutnya Rp 20 ribu sudah seperti tarif standar untuk ‘tiket’ melewati jembatan timbang. Jika kabur dan akhirnya dikejar, biasa dia mencoba merayu dengan memberikan uang satu lembar Rp 50 ribu.

“Ya kita yang penting bisa jalan dan barang enggak diturunin. Karena kalau ekspedisi kaya saya ini pasti muatannya berlebih, itu sudah pasti,” tambahnya.

Berdasarkan informasi itu, tim detikFinance mencoba membuktikannya di Jembatan Timbang di Subah. Jika dilihat dari kejauhan kami tidak melihat adanya sopir truk yang melintas begitu saja sambil melempar bungkus korek api.

Hampir semua truk yang melintas masuk ke jembatan timbang. Kebetulan kami tiba di Jembatan Timbang Subah, Batang pada siang hari, sementara menurut keterangan Julari, aksi seperti itu kerap terjadi di malam hari.

Kami pun mencoba mengklarifikasi hal itu kepada petugas yang ada di Jembatan Timbang Bayah. Korsatpel UPPKB Subah, Arif Munandar menegaskan bahwa tidak ada praktik pungli di tempatnya bekerja.

“Tidak ada pungli,” tegasnya.

Menariknya, Arif justru menunjukan data bahwa jumlah truk yang melintasi Jembatan Timbang Subah turun drastis semenjak adanya Tol Trans Jawa hingga hampir 90%. Bahkan ketika Tol Trans Jawa masih gratis, penurunannya hampir 98%.

“Total kendaraan truk yang lewat dulu itu sebelum ada tol bisa 9.000 kendaraan per bulan termasuk yang kami tilang. Setelah ada tol jadi tinggal 900 yang lewat termasuk yang kami tilang juga,” ujarnya.

Menurut Arif, semenjak adanya Tol Trans Jawa, para sopir truk melakukan siasat menghindari jembatan timbang dengan masuk di Gerbang Tol Weleri lalu kembali ke Pantura melalui Gerbang Kandeman.

“Jadi mereka yang lewat sini sudah pasti beratnya tidak melebihi aturan, jadi mereka sudah pede. Atau mereka yang sebelumnya sudah kena tilang, kan tidak bisa ditilang lagi,” tambahnya.

 

Sumber: finance.detik

PT Rifan Financindo

Be the first to comment

Leave a Reply