AS Rilis Data Inflasi, Harga Emas Kembali Naik Dua Hari Berturut-turut | PT Rifan Financindo

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman April di divisi COMEX New York Exchange, bertambah US$4,9 atau 0,29 persen menjadi ditutup pada US$1.721,80 per ounce. Sehari sebelumnya, Selasa (9/3/2021), emas berjangka melonjak US$38,9 atau 2,32 persen menjadi US$1.716,90.

Harga emas berjangka naik di Divisi COMEX New York Mercantile Exchange. - Antara

PT Rifan Financindo –¬†¬†Harga emas kembali menguat, memperpanjang kenaikan untuk hari kedua berturut-turut pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), mengembalikan kerugian sesi sebelumnya menjadi bertengger di level tertinggi satu minggu. Kenaikan ini karena imbal hasil obligasi pemerintah AS berkurang setelah data inflasi lemah. Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman April di divisi COMEX New York Exchange, bertambah US$4,9 atau 0,29 persen menjadi ditutup pada US$1.721,80 per ounce.

Sehari sebelumnya, Selasa (9/3/2021), emas berjangka melonjak US$38,9 atau 2,32 persen menjadi US$1.716,90. Emas berjangka juga anjlok US$20,5 atau 1,21 persen menjadi US$1.678,00 pada Senin (8/3/2021), setelah turun US$2,2 atau 0,13 persen menjadi US$1.698,50 per ounce pada Jumat (5/3/2021), dan merosot US$15,10 atau 0,88 persen menjadi US$1.700,70 pada Kamis (4/3/2021). “Emas masih mengambil isyarat dari pasar obligasi pemerintah dan data hari ini mengurangi kekhawatiran tentang inflasi jangka pendek,” kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA.

“Jika penjualan obligasi pemerintah AS 10-tahun hari ini memiliki permintaan yang layak, harga emas pada akhirnya bisa bergerak menuju US$1.730. … Level US$1.700 akan memberikan dukungan utama … tapi itu akan bertahan kecuali penjualan di pasar obligasi berlanjut,” kata Moya. Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun turun setelah data menunjukkan harga konsumen AS naik pada Februari, meskipun inflasi yang mendasarinya tetap lemah.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Rabu (10/3/2021) bahwa indeks harga konsumen (IHK) naik 0,4 persen pada Februari dalam skala yang disesuaikan secara musiman setelah naik 0,3 persen pada Januari, juga memberikan dukungan untuk emas. Status emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi telah ditantang oleh imbal hasil obligasi yang lebih tinggi, yang diterjemahkan ke dalam peluang kerugian yang lebih tinggi memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Harga emas sempat jatuh ke level terendah dalam sembilan bulan di US$1.676,10 pada Senin (8/3/2021), setelah merosot selama empat sesi beruntun. Baca Juga : Harga Emas 24 Karat Antam Hari Ini (10/3), Naik Tinggi! Suku bunga riil telah meningkat tajam selama beberapa minggu terakhir karena tingkat nominal yang lebih tinggi, tanpa kenaikan ekspektasi inflasi yang sepadan, tulis TD Securities dalam sebuah catatan.

“Dengan penerbitan obligasi pemerintah besar-besaran terus membayangi, tekanan pada suku bunga yang lebih tinggi akan terus membebani logam mulia dalam waktu dekat.” Dewan Perwakilan Rakyat AS membuka jalan bagi rancangan undang-undang bantuan Covid-19 senilai US$1,9 triliun untuk dipertimbangkan pada Rabu (10/3/2021). Bank Sentral Eropa juga bergulat dengan kenaikan imbal hasil baru-baru ini, tetapi pembuat kebijakan tetap terpecah tentang intervensi pasar skala besar menjelang pertemuan kebijakan pada Kamis waktu setempat.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Mei turun 5,3 sen atau 0,2 persen menjadi ditutup pada US$26,13 per ounce. Platinum untuk pengiriman April naik US$26,40 atau 2,25 persen menjadi menetap di US$1.201,80 per ounce.

Sumber: Market.bisnis

PT Rifan Financindo